SURAT UNTUK KEKASIH

Senin, 28 Maret 2011
Sayang, aku bahagia memilikimu. Buatku, kamu satu dari keajaiban kecil yang membuatku sanggup bertahan di hiruk-pikuknya hidup.
Dengan kata-katamu kamu membasuh wajahku yang kusut oleh penat pekerjaanku. Alangkah indahnya. 
Harum tubuh dan mata binarmu adalah kebanggaan yang kusematkan di setiap mimpiku tentang kamu. 
Sayang, ketika berdua denganmu aku merasa waktu berjalan lebih cepat. Ingin rasanya mempunyai kekuatan hebat yang bisa menghentikan waktu, tapi itu mustahil. Waktu terus berlalu, tak peduli sebutuh apa kita pada setiap detik yang tersisa. Dan kita tak bisa melakukan apa-apa. 


“Sayang, semua sudah kita kalahkan kecuali waktu,” bisikku di telingamu. Dan kamu memelukku erat tanpa kata seolah enggan waktu segera sisakan jarak buat kita. Sayang, tahukah kamu setiap saat aku selalu berharap keberadaanmu? Seperti orang gila rasanya selalu memperlakukanmu seolah-olah selalu ada di dekatku. Saat tidur misalnya, aku selalu ucapkan selamat tidur buatmu. Kadang aku ragu, apakah ini pertanda kehadiranmu di pikiranku sudah di ambang batas? Atau ini ketidakmampuanku mengendalikan perasaanku kepadamu? Entahlah… 


Segala mimpi dan harapan kusandarkan di pundakmu, tiba-tiba tiga kata kuterima darimu. Tiga kata yang kemudian berubah menjadi sesosok iblis yang siap merejam tubuhku. Pisaunya yang tajam terhunus siap mencongkel kedua mataku yang selama ini menikmati keindahanmu. Cakar kotornya merogoh kerongkonganku, jantungku, dan melesak ke dasar hatiku. Perih tak tertandingi.